-->

Ads

✔️ Pengertian Hidroponik

Hidroponik (Pengertian, Manfaat dan Media Tanam )


 Pengertian Hidroponik


Hidroponik adalah teknologi bercocok tanam tanpa menggunakan media tanah namun menggunakan air dan larutan nutrisi yang dibutuhkan tanaman sebagai media tumbuh. Selain air dan larutan nutrisi, hidroponik juga menggunakan media tanam lain seperti rockwool, arang sekam, zeolit, dan berbagai media yang ringan dan steril lainnya. Hidroponik merupakan salah satu sistem budidaya yang populer dikalangan masyarakat khususnya di daerah perkotaan, karena sistem budidaya ini tidak menggunakan tanah sebagai media tanamnya sehingga sistem bercocok tanam secara hidroponik dapat memanfaatkan lahan yang sempit.


Hidroponik juga dikenal dengan istilah Nutri Culture, Water Culture, Gravel Bed Culture dan Soilless Culture atau budi daya tanaman tanpa tanah. Pada sistem pertanian menggunakan hidroponik, yang perlu ditekankan adalah pemenuhan kebutuhan nutrisi dengan air sebagai sumber nutrisi dari tanaman. Oleh karena itu, meskipun tidak melibatkan tanah dalam media tanamnya, tanaman hidroponik tetap tumbuh, bahkan kualitasnya lebih unggul dari pada tanaman biasa.

Budidaya Tanaman Hidroponik


Istilah Hidroponik berasal dari bahasa Yunani, yaitu hydro yang berarti air dan ponos yang artinya kerja, daya atau cara. Jadi hidroponik adalah cara bertanam dengan menggunakan air sebagai media tanam. Prinsip budidaya tanaman secara hidroponik adalah memberikan/ menyediakan nutrisi yang diperlukan tanaman dalam bentuk larutan dengan cara disiramkan, diteteskan, dialirkan atau disemprotkan pada media tumbuh tanaman.


Hidroponik dikenalkan pertama kali oleh W.F. Gericke pada tahun 1936 di Universitas of California Amerika Serikat dalam pengembangan teknik bercocok tanam dengan air sebagai media tanam. Gericke mempromosikan secara terbuka tentang Solution culture yang digunakan untuk menghasilkan tanaman pertanian dengan menumbuhkan tomat yang menjalar setinggi dua puluh lima kaki di halaman belakang rumahnya dengan larutan nutrien mineral selain tanah.


Berikut definisi dan pengertian hidroponik dari beberapa sumber buku: 

  • Menurut Rosliani dan Sumarni (2005), hidroponik adalah sistem penanaman tanaman tanpa menggunakan media tanam tanah dan menggunakan larutan nutrisi yang mengandung garam organik untuk menumbuhkan perakaran yang ideal. 
  • Menurut Soeseno (1988), hidroponik adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan beberapa cara bercocok tanam tanpa menggunakan tanah sebagai tempat menanam tanaman.
  • Menurut Istiqomah (2007), hidroponik adalah cara budidaya tanaman dengan menggunakan air yang telah dilarutkan nutrisi yang dibutuhkan tanaman sebagai media tumbuh tanaman untuk menggantikan tanah. 
  • Menurut Prihmantoro (2003), hidroponik adalah sebuah teknologi bercocok tanam tanpa menggunakan tanah. Media menanam digantikan dengan media tanam lain seperti rockwool, arang sekam, zeolit, dan berbagai media yang ringan dan steril untuk digunakan. Hal terpenting pada hidroponik adalah penggunaan air sebagai pengganti tanah untuk menghantarkan larutan hara ke dalam akar tanaman.
  • Menurut Wulansari (2015), Hidroponik adalah sistem budidaya yang mengandalkan air atau bercocok tanam tanpa tanah. Pada dasarnya bertanam secara hidroponik memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan bertanam dengan media lainnya, selain dapat dilakukan di lahan yang terbatas dan ramah lingkungan terdapat banyak keunggulan lain.


Keunggulan dan Kelemahan Hidroponik 


Menurut Wibowo dan Asriyanti (2013), budidaya tanaman menggunakan sistem hidroponik memiliki keunggulan sekaligus kelemahan, yaitu:

a. Keunggulan Hidroponik 

Keunggulan atau kelebihan budidaya tanaman menggunakan sistem hidroponik adalah sebagai berikut: 
  1. Tidak membutuhkan tanah. 
  2. Tidak membutuhkan banyak air. Artinya, air terbatas dapat digunakan sebagai media hidroponik. Hal ini dikarenakan air akan terus bersirkulasi dalam sistem. 
  3. Mudah dalam pengendalian nutrisi, sehingga pemberian nutrisi bisa lebih efisien.
  4. Relatif tidak menghasilkan polusi nutrisi ke lingkungan. 
  5. Memberikan hasil yang lebih banyak. 
  6. Mudah dalam memanen hasil. 
  7. Steril dan bersih.
  8. Bebas dari tumbuhan pengganggu atau gulma.
  9. Tanaman tumbuh lebih cepat. 
  10. Sangat cocok didaerah dengan tanah yang gersang. 
  11. Sangat cocok untuk lahan terbatas. 
  12. Mengurangi pencemaran zat kimia ke tanah. 
  13. Kandungan gizi tanaman hidroponik lebih tinggi.


b. Kelemahan Hidroponik 

Kelemahan atau kekurangan budidaya tanaman menggunakan sistem hidroponik adalah sebagai berikut: 
  1. Membutuhkan biaya yang besar, karena perangkat dalam sistem hidroponik sulit diperoleh dan harganya mahal.
  2. Memerlukan ketelitian dan kemampuan khusus. 
  3. Bila terjadi kesalahan pada sistemnya, maka tanaman akan mati.

Media Tanam Hidroponik 

Media tanam yang bagus harus memiliki kriteria sebagai media yang tidak mempengaruhi kandungan nutrisi, tidak menyumbat sistem pengairan serta mempunyai pori-pori yang baik. Selain itu bercocok tanam hidroponik juga perlu memperhatikan empat elemen penting sebagai faktor penentu keberhasilan yaitu konsentrasi unsur hara terlarut, jumlah oksigen terlarut, cahaya matahari dan tingkat keasaman larutan (PH). Dalam penggunaan media tanam harus memperhatikan beberapa aspek supaya tanaman bisa tumbuh dan berkembang dengan baik diantaranya ketersediaan air, oksigen dan zat hara selain itu media tanam yang digunakan tidak boleh mengandung zat yang beracun yang dapat membahayakan tanaman.

Kriteria pemilihan media tanam harus disesuaikan dengan jenis tanaman yang akan ditanam supaya tanaman bisa tumbuh dan berkembang dengan baik serta harus memperhatikan elemen penting sebagai faktor penentu keberhasilan tanaman serta menghindari penggunaan media tanam yang mengandung zat beracun sehingga dapat membahayakan tanaman.

Menurut Moesa (2016), terdapat beberapa media tanam yang biasa digunakan dalam budidaya tanaman menggunakan sistem hidroponik, yaitu: 


  1. Rockwool. Rockwool dibuat dengan melelehkan kombinasi batu dan pasir dan kemudian campuran diputar untuk membuat serat yang dibentuk menjadi berbagai bentuk dan ukuran. Proses ini sangat mirip dengan membuat permen kapas. Bentuk bervariasi dari 1"x1"x1" dimulai dengan bentuk kubus hingga 3"x12"x36" lempengan, dengan berbagai ukuran lainnya. Rockwool media semai dan media tanam yang paling baik dan cocok untuk sayuran. Rockwool dapat menghindarkan dari kegagalan semai akibat bakteri dan cendawan penyebab layu fusarium. 
  2. Spons. Media tanam spons sangatlah ringan, sehingga sangat mudah untuh dipindahkan dan ditempatkan dimana saja. Spons tidak memerlukan pemberat lagi karena setelah disiram oleh air spons akan menyerap air sehingga tanaman dapat berdiri tegak. Hasil yang didapatkan media tanam spons adalah pertumbuhan tanaman yang lebih prima, bisa dipakai berulang kali, tanaman lebih subur tanpa proses adaptasi, mampu menyimpan kandungan air lebih dari 2 minggu, dan kekebalan terhadap jamur yang beresiko merusak tanaman. 
  3. Coconut Coir (sabut kelapa). Coconut Coir dikenal juga sebagai coco peat adalah bahan sisa setelah serat telah dihapus dari kulit terluarnya dari kelapa. Coconut Coir bersimbiosis dengan jamur Trichoderma, yang berfungsi sebagai melindungi akar dan merangsang pertumbuhan akar. 
  4. Sekam bakar. Sekam bakar merupakan media tanam yang dapat digunakan untuk membudidayakan sayuran buah tidak hanya sayuran daun saja. Media tanam sekam bakar tidak membebani akar tanaman karena ringan sehingga tanaman dapat tumbuh secara bebas dan leluasa.
  5. Perlite. Perlite adalah batuan vulkanik yang telah super panas menjadi kerikil kaca sangat ringan. Material ini juga digunakan sebagai campuran tanah dalam pot untuk mengurangi kepadatan tanah. Perlite memiliki ukuran yang sama. Perlite merupakan perpaduan dari granit, obsidian, batu apung dan basalt. Batu vulkanik ini secara alami menyatu pada suhu tinggi mengalami apa yang disebut Metamorfosis Fusionic. 
  6. Vermikulit. Vermikulit memiliki bentuk yang hampir mirip dengan perlit, namun media ini dapat menyerap kadar air lebih tinggi dibandingkan perlit. Sehingga banyak orang yang lebih memilih mengunakan vermikulit dibandingkan dengan perlit. 
  7. Lightweight Expanded Clay Aggregate (LECA). LECA adalah shell (cangkang) keramik ringan dengan inti sarang lebah yang diproduksi dengan menembakkan tanah liat alami untuk suhu dari 1100-1200°C dalam tungku berputar. Pelet dibulatkan dalam bentuk dan jatuh dari tempat pembakaran di kelas sekitar 0-32 mm dengan kepadatan rata-rata curah kering sekitar 350 kg/m³. Bahan tersebut disaring menjadi beberapa kelas yang berbeda sesuai aplikasi. 
  8. Pasir. Pasir sering digunakan sebagai media tanam alternatif untuk menggantikan fungsi tanah. Sejauh ini, pasir dianggap memadai dan sesuai jika digunakan sebagai media untuk penyemaian benih, pertumbuhan bibit tanaman, dan perakaran setek batang tanaman. Bobot pasir yang cukup berat akan mempermudah tegaknya setek batang. Selain itu, keunggulan media tanam pasir adalah kemudahan dalam penggunaan dan dapat meningkatkan sistem aerasi serta drainase media tanam. 
  9. Wood fibre (serbuk kayu). Serbuk kayu adalah substrat organik yang sangat efisien untuk hidroponik. Serbuk kayu telah terbukti mengurangi efek-efek penghambat pertumbuhan tanaman. 
  10. Gravel (kerikil). Jenis yang sama yang digunakan dalam akuarium, kerikil dapat digunakan, asalkan dicuci terlebih dahulu. Memang, tanaman yang tumbuh di tempat yang beralaskan kerikil dengan air beredar menggunakan power head pompa listrik, yang pada dasarnya sedang tumbuh hidroponik menggunakan kerikil. Kerikil murah, mudah untuk dibersihkan, saluran air yang baik dan tidak akan menjadi basah kuyup. Namun, kerikil juga berat, dan jika sistem tidak menyediakan air terus menerus, akar tanaman dapat mengering. 
  11. Brick shards (pecahan bata). Pecahan bata memiliki sifat yang mirip dengan kerikil. Mereka memiliki kelemahan tambahan mungkin mengubah pH dan memerlukan pembersihan ekstra sebelum digunakan kembali. 
  12. Kapas. Kapas merupakan media tanam yang sangat baik sebagai langkah awal dalam penyemaian benih sebelum benih ditanam pada media tanam lain. Kapas memiliki daya serap terhadap air sangat tinggi sehingga pemberian nutrisi untuk tanaman hidroponik sangat bagus. Disamping itu, media semai kapas lebih dikenal dan mudah didapatkan. 
  13. Gabus/styrofoam. Gabus adalah jenis bahan anorganik yang dibuat dari campuran kopolimer styren yang dapat digunakan sebagai alternatif media tanam. Pada awalnya media tanam ini hanya digunakan sebagai aklimatisasi bagian tanaman sebelum ditanam di lahan luas. Saat ini di beberapa nursery menggunakan gabus sebagai salah satu campuran untuk meningkatkan porositas pada media tanam. 
LihatTutupKomentar